Komitmen dalam Perjuangan

January 31st, 2008 by zainurihanif

Oleh: Alm. Ustadz Rahmat Abdullah


Email This Post

Sebelum
seorang manusia bekerja dan beramal, sebelum seorang muslim melakukan
amal-amal yang banyak dalam kehidupannya; pertama-tama yang harus
dimiliki adalah al-fahmu. Sebuah pemahaman yang benar tentang ad-dien,
tentang agama ini. Sesudah itu, dia harus punya komitmen untuk
melaksanakannya. Dia pun merawat amal itu dengan kesabaran dan memilih
yang terbaik dari segala kemungkinan yang terbuka di depannya.

Ketika Allah membebaskan seseorang dari semisal kewajiban berperang,
mempertahankan dan memperjuangkan Islam, seperti Rasulullah
melaksanakannya, 27 kali pertempuran beliau pimpin langsung, 35 kali
dipimpin oleh para sahabat, 62 kali perang besar, dengan belasan
perang-perang kecil, semua bukan dilandasi nafsu, tapi semata-mata
pelaksanaan perintah Allah swt. Bahkan untuk nafsu itu adalah hal yang
tidak menyenangkan. Ada beberapa kelompok yang dibebaskan (tidak wajib)
bertempur, yaitu perempuan, ibu-ibu, kakek-kakek, jompo-jompo, dan
bayi-bayi. Barulah nanti menjadi fardu ‘ain kalau musuh masuk kota,
sudah masuk di celah-celah rumah, isteri tidak perlu izin suami untuk
bertempur, pembantu, budak tidak perlu izin tuannya untuk bertempur,
semua sudah menjadi fardu ‘ain yang tidak bisa dihindari.

Nah, di antara orang-orang yang dihindari, tidak boleh dituduh
desertir, melarikan diri dari kewajiban dan tidak mereka disebut
berdosa lantaran tidak berperang, adalah orang-orang sakit, orang-orang
lemah, dan orang-orang yang tidak punya biaya, tidak punya senjata,
tidak punya kendaraan untuk berperang, karena ini bukan membantu tapi
malah merepotkan dalam pertempuran. Allah menyebutkan dalam surat
at-taubah ayat 91-92.

Tidak ada dosa, tidak ada halangan, tidak boleh mereka dituduh
malas, tidak boleh mereka dituduh desertir melarikan diri dari
kewajiban membela Islam. Siapa mereka? Pertama, dhuafa’. Para ahli
tafsir di antaranya Imam al-Qurthubi, Imam Ibnu Katsir, dan Syekh
Jamaluddin al-Qassimi, dan beberapa ahli tafsir sepakat bahwa ad-dhuafa’ itu an-nisaa wal ajaaiz, wa syuyukh, wa sibyan.
Perempuan-perempuan, kakek-kakek, nenek-nenek, dan anak-anak. Yang
tidak mungkin bekerja berat, apalagi yang namanya berperang, yang
logikanya hanya dua: membunuh atau dibunuh.

Karena memang Quraisy sesudah ditinggalkan Muslimin yang hijrah ke
Madinah, tidak puas kota Makkah ditinggalkan begitu saja oleh kaum
muslimin. Mereka mengejar dan selalu melakukan tindakan-tindakan. Dan
begitulah watak karakter abadi kekuatan kafir terhadap kekuatan beriman
dengan cara apapun; dengan surat kabar, dengan majalah, dengan partai,
dengan kekuatan apa saja. Karenanya, kita disyariatkan untuk shalat
khauf kalau lagi perang, shalat dua rakaat Imamnya dia berdiri rakaat
pertama, makmumnya tasyahud, untuk apa? Dia pergi yang lagi piket jaga
gantian. Semua disebabkan Allah mengatakan yang artinya: “Orang-orang
kafir sangat ingin kamu lalai, tidak memelihara, tidak menjaga
senjata-senjata kamu dan barang-barang bawaan kamu, bahan makanan.”

Kita tahu dalam perang modern ini dua pos yang selalu diincar musuh:
tentara dan perekonomian. Amerika mengembargo senjata untuk negeri
semacam Indonesia, tentaranya lemah, pesawatnya kuno, tank-nya gampang
mogok. Ekonominya dikelola orang-orang lain yang memusuhi Islam. Dan
setiap muncul kekuatan baru yang akan menguasai negeri ini dengan jalan
siyasah seperti demokrasi, partai dan sebagainya, mereka tetap akan
mencoba menghalangi jalan ke sana.

Nah, ketika golongan-golongan ini dibebaskan, pertama dhuafa’, dan
yang kedua al-mardho’ orang-orang sakit. Yang ketiga, orang-orang yang
tidak punya biaya, tidak punya alat-alat untuk membela dalam
pertempuran. Tidak boleh mereka disebut melarikan diri dari kewajiban
dan mereka tidak berdosa. Cuma, ayat ini tidak berhenti di sini. Apakah
oleh karena orang sudah bebas, tidak lagi wajib bertempur kayak
kakek-kakaek, nenek-nenek, anak-anak, perempuan-perempuan, lalu mereka
senang-senang. Seolah mereka mengatakan: kita sudah tidak wajib
berperang, enak.

Di sinilah letak perbedaan: mana mental munafikin dan mana mental
orang beriman. Kalau munafikin selalu senang, orang-orang yang selalu
absen dan maunya di belakang. Betul-betul senang apabila mereka tidak
tercatat di buku induk pasukan, tidak dimasukkan ke dalam pasukan yang
ikut membela Islam. Begitulah fakta yang terungkap dalam perang Badar,
Uhud, Hunain, Khandak, dan bermacam-macam perang yang lain.

Di sinilah terlihat perbedaan munafik dan mukmin. Mereka bisa siapa
saja, di mana saja; kalau mereka benar-benar beriman, sedih hatinya
kalau tidak bisa ikut membela Islam. Sedih, sungguh-sungguh
kesedihannya kalau dia tidak bisa membela agamanya dengan apa yang bisa
dia bela. Mungkin di Indonesia ini 99 persen umat Islam Indonesia bisa
berkata saya tidak bisa haji karena miskin. 95 persennya mengatakan,
“Saya tidak bisa membayar zakat lantaran saya miskin”, “Saya tidak bisa
keluarkan infaq dan sedekah, untuk diri saja sudah berat”. Semua bisa
diterima secara syar’an wa aqlan, secara akal menurut standar
syariat agama kita bisa diterima alasan itu. Dan secara logika juga
masuk akal kalau mereka tidak bayar zakat dan tidak pergi haji, karena
makan pun sulit umpamanya.

Tapi tidak 1 persen pun, tidak 2 persen pun bisa diterima alasan
orang mengatakan “Saya tidak bisa berdoa, saya tidak bisa simpati, saya
tidak bisa suka kepada perjuangan Islam”. Ini sudah di ambang batas.
Kelewat batas orang yang mengatakan cinta saja tidak bisa, simpati saja
pada perjuangan tidak bisa, berdoa saja tidak bisa, menggerakkan hati
dan bibir untuk meminta kepada Allah, ”Ya Allah, saya tidak bisa
berjuang, saya tidak mempunyai ilmu yang cukup untuk mewakili
perjuangan ini, di front-front perjuangan.” Kalau di Palestina
perjuangannya langsung dengan jasad dengan nyawa, kalau di tempat lain
mungkin dengan pena dia menulis di surat kabar, majalah, buku-buku, ada
yang di mimbar-mimbar, ada yang di gedung parlemen, ada yang
menyelamatkan uang negara kalau dia menjadi menteri yang baik. Sekali
lagi tidak bisa mereka mengatakan, “Saya tidak bisa berbuat apa-apa!”

Maka Allah mengatakan atas 3 hal ini dalam firman yang tadi saya
sampaikan, orang lemah, orang sakit, dan tidak memiliki biaya, mereka
tidak berdosa bila tidak ikut dalam pertempuran, tapi syarat: “idzaa nashohu lillahi wa rasulih.” Apabila mereka mempunyai nashohu
(ketulusan hati, punya azam yang kuat, punya cinta dan kesetiaan, punya
tekad). Seandainya dia bisa, dia harus melakukan perjuangan itu.
Barulah orang-orang lemah, orang sakit, perempuan, yang tidak wajib
perang itu lepas dari kewajiban. Karena tidak semua amal digerakkan
oleh badan saja, karena ada amal lisan namanya dzikir, ucapan, amar ma’ruf nahi munkar,
ada amal jasad seperti haji, umroh, sa’i , thawaf, ada amal hati
seperti niat yang baik, menjaga diri dari riya’, mengikhlaskan,
memaafkan saudara kita, memasang niat yang kuat untuk memperjuangkan
agama Allah, maka Allah mensyaratkan itu “idzaa nashohu lillahi wa rasulih”, himpunan yang berjalin antara tekad, ketulusan hati, kecintaan, kemauan berbuat seandainya punya modal untuk itu.

Kalau ada orang yang mengatakan “biarain aja, ini urusan dunia,
nggak ada urusannya dengan urusan akhirat.” Tetapi, ketika orang-orang
yang sudah bercokol di parlemen kebanyakan orang kafirnya, dibantailah
rakyat; siapa yang bertanggung jawab? Rakyat itu bertanggung jawab atas
masa depan dan kondisi mereka.

Nah, memang tidak ada jalan untuk menghukum orang-orang yang berbuat
baik di antara muhsinin itu orang yang punya nashohu, orang yang
memiliki ketulusan hati, kekuatan azam, kesucian niat, kecintaan, tekad
yang kuat untuk berbuat. Apa tandanya? “Walaa alallladzina…….” [QS.
At-Taubah (9): 92] tidak juga berdosa, tidak boleh disebut malas atau
melarikan diri dari kewajiban. Siapa? Orang-orang yang sudah datang
kepadamu, nggak punya modal, nggak punya apa-apa, tapi punya kekuatan
tenaga, punya niat yang baik. Mereka berharap Rasulullah bisa
memberikan kuda atau unta, membekalinya dengan tombak, pedang dan panah
supaya bisa ikut berjihad.

Namun, ketika mereka datang, engkau hanya bisa mengatakan kalau
sudah habis semua kuda, semua unta sudah habis, tombak panah sudah
terbagikan, engkau hanya bisa menjawab “Saya tidak menemukan apa-apa
lagi, saya tidak punya apa-apa lagi, kuda, unta, tombak, panah, sudah
habis. Saya tidak bisa bawa kamu ikut berperang.” Terpaksa mereka pergi
dengan air mata yang berlinang. Menangis karena tidak bisa bergabung
dalam sebuah perang yang mungkin akan menjadikan mereka cacat, buntung
tangannya, atau mati syahid di sana. Itulah tanda kesungguhan
orang-orang beriman. Mereka pun berlalu dengan duka yang teramat dalam.
Semua itu lantaran mereka tidak punya biaya sedikit pun untuk membeli
perlengkapan perang.

Kalau sekarang, orang berlomba-lomba cari modal jutaan hingga
milyaran untuk jadi polisi, jadi camat, jadi tentara, jadi menteri.
Dulu, di masa sahabat, orang mencari duit sendiri untuk setor nyawa
(syahid). Itulah bedanya zaman di mana hedonisme, orang berkiblat
kepada kesenangan dunia sehingga lupa kepada niat akhirat. Oleh karena
itu, Rasulullah saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Tarmidzi
“dunia itu isinya cuma empat kelompok saja.”

Jumlah manusia milyaran, tapi kualitas manusia cuma empat. Yang pertama “rajulun attaahullahu ‘ilman wa maalan.” Seseorang yang Allah berikan ilmu dan harta. Fahuwa ya’malu bihi waya’lamu annalillahi fiihii haqqan wa yasilu bihi rahimah.
Dia laksanakan kewajiban berharta kalau dia kaya, dia tahu Allah
memiliki hak dalam harta itu, ada zakat, ada infaq, shadaqah. Dan
dengan harta yang Allah berikan itu dia menyambung silaturahim.

Dulu semasa orang belum punya motor, cita-cita kalau sudah ke
Jakarta mau silaturahim kepada kerabat, minimal sebulan sekali.
Ternyata setelah punya motor, setahun sekali pun tidak. Alasannya,
“Nanti setelah punya mobil.” Sudah punya mobil silaturahim tidak jalan
juga, telepon pun tidak diangkat. Orang lebih suka kumpul dengan kolega
dagang, dengan teman-teman bisnis. Kalau memberi orang tua seratus
ribu, terasa berat, tapi untuk traktir teman ratusan ribu tidak berat.
Inilah di masa orang memuja kesenangan.

Golongan yang kedua, orang yang diberi ilmu tidak dapat harta.
Miskin, tapi punya ilmu. Apa dia bilang dalam hatinya, “Kalau saja
Allah memberi saya harta dan kekayaan seperti yang diberikan kepada si
fulan yang saleh dan baik itu di mana dengan ilmunya dia beramal,
sungguh saya juga akan beramal, saya iri, saya ingin seperti dia.” Yang
satu beramal karena kaya dan berilmu, yang satu berilmu saja tidak
punya harta. Dua-duanya ini sama dalam satu derajat kebaikan.

Di masa lalu ada orang saleh bernama ‘Ali Al-Fatah. Ketika orang
menggiring kambing-kambing qurban. Ali Al-Fatah memang miskin, tapi
berilmu, akhlaqnya bagus. Dia bilang, “Ya Allah sekarang saya mau
mendekatkan diriku dengan-Mu. Tapi dengan apa? Kambing tak punya. Aku
hanya bisa mendekat denganMu melalui duka-dukaku dan kesedihanku.” Para
komentator kisah ini mengatakan apa artinya mendekatkan diri dengan
Allah dengan kesedihan? Artinya adalah ikut bersedih dengan kesedihan
umat, ikut prihatin dengan keprihatinan umat, ikut senang kalau umat
senang, ikut berduka kalau umat berduka. Itulah kita maksud dengan
selalu memikirkan keadaan dan nasib umat.

Yang ketiga ialah seseorang yang Allah berikan harta, tapi tidak
memiliki ilmu. Siang malam kerjaannya maksiat. Tidak mau menunaikan
hak-hak Allah. Dan dia tidak menyambung silaturahmi. Salah satu bentuk
memutuskan silaturahmi adalah zina. Kelompok yang ketiga ini Rasulullah
berkata adalah kelompok yang paling buruk kedudukannya. Punya harta
tapi tidak memiliki ilmu, dia gunakan harta itu sebagai sarana untuk
maksiat. Melakukan maksiat apa saja yang bisa memuaskan nafsu rendahnya.

Kelompok berikutnya, orang yang tidak diberikan ilmu juga tidak
memiliki harta. Sudah miskin, bodoh. Dia bilang kalau Allah memberikan
saya kekayaan seperti orang ini (orang yang kaya tapi bodoh), saya akan
berbuat kayak dia. Saya akan maksiat. Saya akan berzina. Saya akan
mabuk. Walaupun dia tidak melakukan kedudukannya sama dengan orang yang
melakukan maksiat, menikmati maksiat karena dia kaya, sementara yang
keempat ini miskin tapi bodoh.

Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari, kitab paling shahih setelah
Al-Qur’an, memberikan judul bab dalam hadits beliau yang shahih, bab al-ilmu qablal qauli wal amal, bab ilmu dulu sebelum banyak bekerja dan beramal. Dalilnya fa’lam annahu laailaaha illallah (QS. 47: 19) “Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selalin Allah,” kemudian “wastaghfiruhu” barulah amal, barulah kata, beristighfarlah atas dosa dan kesalahan-kesalahanmu.

Awal modal kita adalah ilmu. Karena tidak berilmu, walau belum
berbuat dosa; orang yang bercita-cita maksiat tadi sudah memiliki
derajat yang sama dengan para pemaksiat itu. Orang yang kelompok kedua
walaupun belum beramal karena dia miskin, namun dia berilmu, dia bisa
menset niatnya sehingga mendapat kedudukan yang sangat terhormat dan
mulia.

Yang kedua ada kemauan. Seperti beberapa sahabat Nabi yang tidak
ikut berperang, tapi pergi dengan air mata berlinangan, betul-betul
sungguh kesedihannya. Itu namanya punya komitmen, punya ketulusan hati,
punya kecintaan. Karena itu, selalulah pasang niat untuk berbuat baik.

Orang mengatakan kalau soal pergi haji bukan soal punya duit.
Mungkin ini benar. Betapa banyak orang yang uangnya milyaran, tapi
tidak pergi-pergi haji juga. Bahkan penduduk Saudi sendiri, tidak
semuanya sudah berhaji. Tidak semuanya karena uang, tapi yang
terpenting adalah niat dan juga azzam. Seperti itulah yang kerap
dilakukan nenek-nenek dan kakek-kakek kita supaya bisa berangkat haji.
Setiap hari mereka menabung. Berapa pun, yang penting menabung supaya
bisa berangkat haji. Subhanallah! Kenapa hal itu jarang dilakukan
generasi sekarang? Ini semua karena orang pada zaman ini, yang makan
pendidikan modern, tapi kalah dalam soal niat, kalah dalam soal
komitmen. Mengapa? Karena kesenangan hari ini adalah kiblat orang
modern, hedonisme.

         

sumber www.dakwatuna.com

Menang Tanpa Berargumentasi

July 15th, 2007 by zainurihanif

 

Jika
saya berargumentasi, saya ingin menang

 

Kemenangan adalah ketika kita
memaksa orang lain untuk meletakkan senjata-senjata emosional dan
intelektualnya dan menyerah kalah. Dulu saya percaya jika mau memenangkan
argumentasi, lawan haruslah dipukul bertubi-tubi sampai menyerah dan terdiam.
Bagaimana hal ini jika dipraktekkan di rumah, kampus, sekolah dan tempat lain?
Tepatkah definisi ini?

 

Hati-hati dengan kata. Kata-kata
bisa membunuh dan kata-kata bisa ikut melukai! Hukuman kematian yang
disampaikan oleh seorang hakim hanyalah terdiri dari kata-kata. Kata-kata
penolakan, kata-kata pengkhianatan, kata-kata kebencian, kata-kata penyangkalan
dapat membunuh setajam seperti pisau belati. Kata-kata mengakibatkan
peperangan.

 

Menggunakan argumentasi sebagai
sebuah senjata untuk melukai telah memberikan reputasi buruk pada argumentasi.
Saya memikirkan teman saya yang bertipe eksplosif mirip seperti pistol
terkokang dengan pemicu lebih dari satu. Semua siap ditembaki, semua siap
dikomentari!

 

Argumentasi bukanlah sebuah
proses dimana kita berusaha menghancurkan orang lain. Argumentasi adalah sebuah
alat dengannya kita dapat mencapai suatu akhir, memuaskan sebuah keingingan,
memenuhi gairah. Argumentasi adalah mekanisme, dengannya kita menyingkapkan
kebenaran-kebenaran bagi kita.

 

Muhammad SAW dengan sabar
senantiasa menyuapi seorang Yahudi buta sampai akhir hayat. Padahal sang Yahudi
tersebut selalu menyumpahserapahi, tidak tahu bahwa yang selama ini menolongnya
adalah Muhammad. sampai suatu saat sang Yahudi tersebut mendapati yang menyuapi
Abu Bakar, dan dia merasakan sentuhan yang berbeda. Sehingga diberitahukannya
kepada sang Yahudi tadi bahwa selama ini yang menolongnya adalah Rasulullah
Muhammad SAW. Gemetarlah sang Yahudi tersebut, betapa agungnya sosok Muhammad
SAW. Akhirnya kemenangan hakiki tercapai, yaitu masukknya ia kedalam barisan
Muslim.

 

Saya jadi teringat kepala
sekolah kami (SMA 1 Jogja), pak Bashori. Bagaimana cara beliau mengingatkan mas
tukang kebun yang sering terlambat menyapu halaman sekolah ketika siswa sudah
masuk kelas. Apa yang dilakukannya? Ternyata pagi berikutnya ia datang
pagi-pagi seperti biasa, diambilnya sapu dan disapulah seluruh halaman sekolah
yang kotor oleh daun-daun rontok. Diambilnya gerobak sampah kuning di pojok
sekolah, didorongnya sendiri dan dimasukkan sampah itu sedikit demi sedikit ke
gerobak sampah tadi. Orang tua siswa yang tidak tahu tentu berpikir, ”wah necis
bener tuh tukang kebun, pake dasi lagi!” ^_^ Tapi tidak begitu dengan pak
Satpam dan tukang kebun yang telat itu, segera mereka bergegas membantu
menyapu. Tentunya dengan perasaan nggak enak dan segan. Hari berikutnya,
pagi-pagi benar tanpa diminta masing2 orang menjalankan tugasnya dengan baik…

 

Bagaimana dengan kita?

 

 

Zainuri Hanif

Ambarrukmo, 11 Juli 2007

 

 

 

 

Kegagalan Tarbiyah, Apakah Kita Mengalaminya?

April 26th, 2007 by zainurihanif

Kegagalan Tarbiyah,

Apakah Kita Mengalaminya?

 

Kegagalan tarbiyah bisa terjadi ketika proses
tarbiyah itu sedang dilakukan, tetapi juga dapat terjadi di awal proses.
Kesalahan persepsi tentang tarbiyah memberi andil besar dalam membelokkan
substansi tarbiyah sejak awal. Kawan-kawan saya di Jogja menyimpilkan lima
kesalahan persepsi tentang tarbiyah :

 
Pertama, tarbiyah dipandang semata-mata
sebagai transfer materi.
Oleh
karena itu, yang dimaksudkan dengan sudah atau belum “menyampaikan materi”
adalah sudah atau belum memperdengarkan atau menyajikan materi tersebut kepada
mad’u. Di sisi yang lain, mutarabbi merasa sudah mendapat materi ketika sudah
pernah mendengar paparan.
Persepsi
ini menyederhanakan tujuan tarbiyah sebagai pengawal dalam pembentukan fikrah
dan harakah.

 
Tarbiyah sebagai motivasi dan landasan melakukan
amal menjadi hal yang langka dijumpai. Idealnya dengan tarbiyah, kita menjadi
banyak amal, dan amal itu bermanfaat/produktif memberikan kontribusi bagi
perkembangan dakwah.

 
Kedua, persepsi bahwa murobbi adalah
segalanya bagi mad’u.
Adalah
hal yang idanggap ‘aib’ bagi penganut ‘mazhab’ ini bila mad’u memiliki
kompetensi yang lebih baik daripada mad’u dalam beberapa bidang. Persepsi ini
menyebabkan alternatif yang terjadi adalah pilihan buruk dia antara hal-hal
buruk berikut :

  1. Mad’u
         menjadi kerdil bagai katak di bawah tempurung
  2. Mad’u
         memberontak dan senantiasa terjebak dalam ketidakpuasan
  3. Mad’u
         berkembang sejalan dengan tarbiyahnya, tetapi memiliki batas atas yang
         jelas, yaitu setinggi kemampuan murobbinya dan mustahil melebihinya

Mutarobbi yang ingin berbuat banyak bagi dakwah,
tidak perlu harus ‘wajib lapor’ dulu. Usaha mengembangkan kompetensi juga tidak
mutlak harus sesuai keinginan murobbi. Justru murobbi hendaknya pandai
memposisikan diri dan memberi dorongan agar kemampuan yang dimiliki
mutarobbinya berkembang dan suatu saat ini buahnya bisa dipetik. Jika murobbi
bisa desain, mutarobbi yang suka desain justru didorong bisa desain yang lebih
bagus, mbuat website, blog, dll. Jika murobbi bisa menulis, mutarobbi yang juga
suka menulis didorong mengembangkan kemampuannya dalam berbagai lomba, dan
membuat buku. Usahakan mutarobbi jauh lebih baik dari murobbinya. Agar dakwah
ini terus berkembang, bukannya menurun.

 
Ketiga, tarbiyah dianggap sebagai
proses indoktrinasi dan dominasi.
Murobbi mempersepsikan keberhasilan tarbiyah adalah ketika mad’u memiliki
‘kesetiaan’ dan menjadi pendukung murobbinya.

 
Pendapat murobbi menjadi mutlak. Bahkan tidak
sedikit sekarang ini yang harus berkonsultasi kepada murobbi dulu dalam
menerima amanah dan berbagai hal lainnya. Seolah-olah dia tidak memiliki
dirinya, namun murobbilah yang memutuskan segala sesuatunya.

 
Keempat, sistematika dan metodologi tarbiyah dipersepsikan sebagai
hal yang baku.
Misalnya saja
berdasarkan pendekatan waktu, berurutan dan tidak bisa dibolak-balik.
Pendekatan ini menyebabkan seseorang yang memiliki potensi yang lebih besar
tidak dapat mengambil ’SKS’ yang lebih besar. Metodologi one way traffic, white board/papan tulis, spidol/kapur, dan
beberapa hal teknis lainnya dianggap sebagai perangkat keras yang harus ada.
Sedangkan seminar, diskusi, pelatihan, dan teknologi penyampaian lainnya tidak
digunakan karena dianggap mengurangi ’nilai sakral’ tarbiyah. Akibat lainnya
adalah materi disajikan tidak berdasarkan kebutuhan mad’u

 
Kelima, adalah kecenderungan untuk
melakukan ’kloning murobbi’.

Kecenderungan hoby, syu’ur, selera, kegemaran, dan beberapa hal yang sebenarnya
adalah privacy murobbi menjadi muwashafat (spesifikasi_red) dan ukuran
keberhasilan tarbiyah. 

Suatu hal yang menjadi sentilan diantara
temen-temen adalah seseorang itu ketahuan murobbinya siapa dari cara ketawanya,
kata-kata khasnya dan cara marahnya. Bahkan menurun sampai beberapa generasi.

 

 Zainuri Hanif

Disadur
dari buku ”Sudahkan Kita Tarbiyah, refleksi Seorang Mutarobbi” Eko Novianto dengan beberapa tambahan

Ukhuwah Harmonis, Dakwah Terasa Manis

March 30th, 2007 by zainurihanif

Kaburnya nilai antara Islam dan Umat Islam semakin membuat jarak manusia dengan Allah SW. Persaudaraan sebagai warisan kemualiaan dan salah satu keutamaan Islam kehilangan bentuknya. Umat Islam terjebak pada fanatisme simbol dan golongan. Membelanya lebih dari membela Islam. Lalu kapan Islam manis dengan ukhuwah yang harmonis?

***

“Mataa nashrullah? Dimana Mujahid-mujahid Allah?” Harapan yang tergetar diantara bibir pecah yang kelaparan.

Majelis itu menjadi tegang. Empat puluhan orang yang memenuhi ruangan kecil itu tercekat membisu. Di hadapan mereka berdiri dua orang yang selama ini menjadi panutan dalam dakwah. Keduanya saling tatap dengan mata nanar. Tangan mereka terkepal, seakan ingin menumpahkan gumpalan besar dalam dada. Hingga salah satu dari keduanya berkata : “Selama masih ada dia disini, jangan harap saya akan ikut aktif!” Sesaat kemudian, “Brakk!” Pintu ruangan dibanting, seiring kepergiannya. Entah kemana. Dan desahan istiqfar berpadu titik air mata serentak membasahi ruangan tersebut.

Di lain tempat lain waktu, lima anak manusia hangat berdiskusi. Dengan mimik serius, sesekali sketsa digoreskan di papan tulis. Kelima aktivis Muslim kampung itu seolah sedang membicarakan realitas sosial kampungnya. Tampak mereka menghitung-hitung kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, baik lawan, maupun kawan. Namun, bila ditilik lebih dekat, ternyata mereka sedang berbincang bagaimana menghalangi jamaah kampungnya untuk mengikuti kegiatan di luar organisasinya dan mengatur strategi bagaimana memberi pelajaran agar aktivis beda organisasi itu kapok.

Di belahan bumi lainnya, anak-anak, laki-laki dan wanita muslimin panik berlarian. Dengan wajah cemas mereka mencoba menyelamatkan diri. Di belakang mereka, ratusan bahkan ribuan tentara kafir dengan bendera Israel, Amerika, dan sekutunya mengejar dan memberondong dengan senjata-senjata mereka. Lupakah kita dengan kekejaman Yahudi di Palestina? Kekejian pasukan Amerika di Irak, Afghanistan, Somalia, dan bumi Islam lainnya? Rumah, masjid dan sekolah dibakar habis. Rata dengan tanah. Hutan dan apa saja yang bisa melindungi mereka menjadi tujuan pelarian. Jangan bertanya tentang perlawanan, karena makanan dan obat-obatan saja belum tentu ada. Saat itu mereka hanya bisa bertanya : “Mataa nashrullah? Dimana Mujahid-mujahid Allah?” Harapan yang tergetar diantara bibir pecah yang kelaparan. Ironis!

Ukhuwah Harmonis, Dakwah Terasa Manis

Ukhuwah Islamiyah selalu menghadirkan pesona yang luar biasa. Ukhuwah merupakan kebutuhan untuk dipenuhi. Dan sejak dahulu, kini, hingga akhir zaman, senantiasa dirindukan perwujudannya dalam kehidupan umat Islam” Masa depan adalah harapan. Masa depan adalah wadah menempatkan gagasan. Sesuatu yang kita dambakan. Membuka kesempatan bagi kita untuk menjadikan kenuayaan hidup yang dinamis. Kita bersyukur Allah masih memberi kita kesempatan. Kini saatnya bagi kita untuk menebus kelemahan. mementaskan ukhuwah sebagai strategi mewujudkan kebedaraan Islam dan kaum Muslimin.

Ukhuwah yang tegak di atas sistem nilai yang abadi, Qur’an dan Sunnah. Mewujudkan ukhuwah yang mengacu pada norma dan cita-cita Islam sebagaiu pentasnya di Madinah. Dan ukhuwah yang bertujuan mewujudkan suatu bentuk dan sifat persaudaraan kemanusiaan yang suci (fitrah). Jika kita mampu mewujudkannya, maka ia akan kembali menjadi pilar yang kokoh dalam bangunan dakwah. Ketika itu terjadi, dakwah akan senantiasa terasa manis. Ia hadir membawa keberkahan dalam kehidupan. Saat itu kita akan berkata sebagaimana perkataan salafush sholeh, “Sekiranya pun tuanku akan menukarnya dengan semua harta kekayaan istana, maka kami tidak akan merelakan kenikmatan bersama dakwah ini?”

Akankah kita mengatakannya? Wallahualam bish showab.

[z@in_alizzah]

Zainuri Hanif Bela Rakyat edisi ke-7, April Maret 2007