Komitmen dalam Perjuangan
January 31st, 2008 by zainurihanifOleh: Alm. Ustadz Rahmat Abdullah
Sebelum
seorang manusia bekerja dan beramal, sebelum seorang muslim melakukan
amal-amal yang banyak dalam kehidupannya; pertama-tama yang harus
dimiliki adalah al-fahmu. Sebuah pemahaman yang benar tentang ad-dien,
tentang agama ini. Sesudah itu, dia harus punya komitmen untuk
melaksanakannya. Dia pun merawat amal itu dengan kesabaran dan memilih
yang terbaik dari segala kemungkinan yang terbuka di depannya.
Ketika Allah membebaskan seseorang dari semisal kewajiban berperang,
mempertahankan dan memperjuangkan Islam, seperti Rasulullah
melaksanakannya, 27 kali pertempuran beliau pimpin langsung, 35 kali
dipimpin oleh para sahabat, 62 kali perang besar, dengan belasan
perang-perang kecil, semua bukan dilandasi nafsu, tapi semata-mata
pelaksanaan perintah Allah swt. Bahkan untuk nafsu itu adalah hal yang
tidak menyenangkan. Ada beberapa kelompok yang dibebaskan (tidak wajib)
bertempur, yaitu perempuan, ibu-ibu, kakek-kakek, jompo-jompo, dan
bayi-bayi. Barulah nanti menjadi fardu ‘ain kalau musuh masuk kota,
sudah masuk di celah-celah rumah, isteri tidak perlu izin suami untuk
bertempur, pembantu, budak tidak perlu izin tuannya untuk bertempur,
semua sudah menjadi fardu ‘ain yang tidak bisa dihindari.
Nah, di antara orang-orang yang dihindari, tidak boleh dituduh
desertir, melarikan diri dari kewajiban dan tidak mereka disebut
berdosa lantaran tidak berperang, adalah orang-orang sakit, orang-orang
lemah, dan orang-orang yang tidak punya biaya, tidak punya senjata,
tidak punya kendaraan untuk berperang, karena ini bukan membantu tapi
malah merepotkan dalam pertempuran. Allah menyebutkan dalam surat
at-taubah ayat 91-92.
Tidak ada dosa, tidak ada halangan, tidak boleh mereka dituduh
malas, tidak boleh mereka dituduh desertir melarikan diri dari
kewajiban membela Islam. Siapa mereka? Pertama, dhuafa’. Para ahli
tafsir di antaranya Imam al-Qurthubi, Imam Ibnu Katsir, dan Syekh
Jamaluddin al-Qassimi, dan beberapa ahli tafsir sepakat bahwa ad-dhuafa’ itu an-nisaa wal ajaaiz, wa syuyukh, wa sibyan.
Perempuan-perempuan, kakek-kakek, nenek-nenek, dan anak-anak. Yang
tidak mungkin bekerja berat, apalagi yang namanya berperang, yang
logikanya hanya dua: membunuh atau dibunuh.
Karena memang Quraisy sesudah ditinggalkan Muslimin yang hijrah ke
Madinah, tidak puas kota Makkah ditinggalkan begitu saja oleh kaum
muslimin. Mereka mengejar dan selalu melakukan tindakan-tindakan. Dan
begitulah watak karakter abadi kekuatan kafir terhadap kekuatan beriman
dengan cara apapun; dengan surat kabar, dengan majalah, dengan partai,
dengan kekuatan apa saja. Karenanya, kita disyariatkan untuk shalat
khauf kalau lagi perang, shalat dua rakaat Imamnya dia berdiri rakaat
pertama, makmumnya tasyahud, untuk apa? Dia pergi yang lagi piket jaga
gantian. Semua disebabkan Allah mengatakan yang artinya: “Orang-orang
kafir sangat ingin kamu lalai, tidak memelihara, tidak menjaga
senjata-senjata kamu dan barang-barang bawaan kamu, bahan makanan.”
Kita tahu dalam perang modern ini dua pos yang selalu diincar musuh:
tentara dan perekonomian. Amerika mengembargo senjata untuk negeri
semacam Indonesia, tentaranya lemah, pesawatnya kuno, tank-nya gampang
mogok. Ekonominya dikelola orang-orang lain yang memusuhi Islam. Dan
setiap muncul kekuatan baru yang akan menguasai negeri ini dengan jalan
siyasah seperti demokrasi, partai dan sebagainya, mereka tetap akan
mencoba menghalangi jalan ke sana.
Nah, ketika golongan-golongan ini dibebaskan, pertama dhuafa’, dan
yang kedua al-mardho’ orang-orang sakit. Yang ketiga, orang-orang yang
tidak punya biaya, tidak punya alat-alat untuk membela dalam
pertempuran. Tidak boleh mereka disebut melarikan diri dari kewajiban
dan mereka tidak berdosa. Cuma, ayat ini tidak berhenti di sini. Apakah
oleh karena orang sudah bebas, tidak lagi wajib bertempur kayak
kakek-kakaek, nenek-nenek, anak-anak, perempuan-perempuan, lalu mereka
senang-senang. Seolah mereka mengatakan: kita sudah tidak wajib
berperang, enak.
Di sinilah letak perbedaan: mana mental munafikin dan mana mental
orang beriman. Kalau munafikin selalu senang, orang-orang yang selalu
absen dan maunya di belakang. Betul-betul senang apabila mereka tidak
tercatat di buku induk pasukan, tidak dimasukkan ke dalam pasukan yang
ikut membela Islam. Begitulah fakta yang terungkap dalam perang Badar,
Uhud, Hunain, Khandak, dan bermacam-macam perang yang lain.
Di sinilah terlihat perbedaan munafik dan mukmin. Mereka bisa siapa
saja, di mana saja; kalau mereka benar-benar beriman, sedih hatinya
kalau tidak bisa ikut membela Islam. Sedih, sungguh-sungguh
kesedihannya kalau dia tidak bisa membela agamanya dengan apa yang bisa
dia bela. Mungkin di Indonesia ini 99 persen umat Islam Indonesia bisa
berkata saya tidak bisa haji karena miskin. 95 persennya mengatakan,
“Saya tidak bisa membayar zakat lantaran saya miskin”, “Saya tidak bisa
keluarkan infaq dan sedekah, untuk diri saja sudah berat”. Semua bisa
diterima secara syar’an wa aqlan, secara akal menurut standar
syariat agama kita bisa diterima alasan itu. Dan secara logika juga
masuk akal kalau mereka tidak bayar zakat dan tidak pergi haji, karena
makan pun sulit umpamanya.
Tapi tidak 1 persen pun, tidak 2 persen pun bisa diterima alasan
orang mengatakan “Saya tidak bisa berdoa, saya tidak bisa simpati, saya
tidak bisa suka kepada perjuangan Islam”. Ini sudah di ambang batas.
Kelewat batas orang yang mengatakan cinta saja tidak bisa, simpati saja
pada perjuangan tidak bisa, berdoa saja tidak bisa, menggerakkan hati
dan bibir untuk meminta kepada Allah, ”Ya Allah, saya tidak bisa
berjuang, saya tidak mempunyai ilmu yang cukup untuk mewakili
perjuangan ini, di front-front perjuangan.” Kalau di Palestina
perjuangannya langsung dengan jasad dengan nyawa, kalau di tempat lain
mungkin dengan pena dia menulis di surat kabar, majalah, buku-buku, ada
yang di mimbar-mimbar, ada yang di gedung parlemen, ada yang
menyelamatkan uang negara kalau dia menjadi menteri yang baik. Sekali
lagi tidak bisa mereka mengatakan, “Saya tidak bisa berbuat apa-apa!”
Maka Allah mengatakan atas 3 hal ini dalam firman yang tadi saya
sampaikan, orang lemah, orang sakit, dan tidak memiliki biaya, mereka
tidak berdosa bila tidak ikut dalam pertempuran, tapi syarat: “idzaa nashohu lillahi wa rasulih.” Apabila mereka mempunyai nashohu
(ketulusan hati, punya azam yang kuat, punya cinta dan kesetiaan, punya
tekad). Seandainya dia bisa, dia harus melakukan perjuangan itu.
Barulah orang-orang lemah, orang sakit, perempuan, yang tidak wajib
perang itu lepas dari kewajiban. Karena tidak semua amal digerakkan
oleh badan saja, karena ada amal lisan namanya dzikir, ucapan, amar ma’ruf nahi munkar,
ada amal jasad seperti haji, umroh, sa’i , thawaf, ada amal hati
seperti niat yang baik, menjaga diri dari riya’, mengikhlaskan,
memaafkan saudara kita, memasang niat yang kuat untuk memperjuangkan
agama Allah, maka Allah mensyaratkan itu “idzaa nashohu lillahi wa rasulih”, himpunan yang berjalin antara tekad, ketulusan hati, kecintaan, kemauan berbuat seandainya punya modal untuk itu.
Kalau ada orang yang mengatakan “biarain aja, ini urusan dunia,
nggak ada urusannya dengan urusan akhirat.” Tetapi, ketika orang-orang
yang sudah bercokol di parlemen kebanyakan orang kafirnya, dibantailah
rakyat; siapa yang bertanggung jawab? Rakyat itu bertanggung jawab atas
masa depan dan kondisi mereka.
Nah, memang tidak ada jalan untuk menghukum orang-orang yang berbuat
baik di antara muhsinin itu orang yang punya nashohu, orang yang
memiliki ketulusan hati, kekuatan azam, kesucian niat, kecintaan, tekad
yang kuat untuk berbuat. Apa tandanya? “Walaa alallladzina…….” [QS.
At-Taubah (9): 92] tidak juga berdosa, tidak boleh disebut malas atau
melarikan diri dari kewajiban. Siapa? Orang-orang yang sudah datang
kepadamu, nggak punya modal, nggak punya apa-apa, tapi punya kekuatan
tenaga, punya niat yang baik. Mereka berharap Rasulullah bisa
memberikan kuda atau unta, membekalinya dengan tombak, pedang dan panah
supaya bisa ikut berjihad.
Namun, ketika mereka datang, engkau hanya bisa mengatakan kalau
sudah habis semua kuda, semua unta sudah habis, tombak panah sudah
terbagikan, engkau hanya bisa menjawab “Saya tidak menemukan apa-apa
lagi, saya tidak punya apa-apa lagi, kuda, unta, tombak, panah, sudah
habis. Saya tidak bisa bawa kamu ikut berperang.” Terpaksa mereka pergi
dengan air mata yang berlinang. Menangis karena tidak bisa bergabung
dalam sebuah perang yang mungkin akan menjadikan mereka cacat, buntung
tangannya, atau mati syahid di sana. Itulah tanda kesungguhan
orang-orang beriman. Mereka pun berlalu dengan duka yang teramat dalam.
Semua itu lantaran mereka tidak punya biaya sedikit pun untuk membeli
perlengkapan perang.
Kalau sekarang, orang berlomba-lomba cari modal jutaan hingga
milyaran untuk jadi polisi, jadi camat, jadi tentara, jadi menteri.
Dulu, di masa sahabat, orang mencari duit sendiri untuk setor nyawa
(syahid). Itulah bedanya zaman di mana hedonisme, orang berkiblat
kepada kesenangan dunia sehingga lupa kepada niat akhirat. Oleh karena
itu, Rasulullah saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Tarmidzi
“dunia itu isinya cuma empat kelompok saja.”
Jumlah manusia milyaran, tapi kualitas manusia cuma empat. Yang pertama “rajulun attaahullahu ‘ilman wa maalan.” Seseorang yang Allah berikan ilmu dan harta. Fahuwa ya’malu bihi waya’lamu annalillahi fiihii haqqan wa yasilu bihi rahimah.
Dia laksanakan kewajiban berharta kalau dia kaya, dia tahu Allah
memiliki hak dalam harta itu, ada zakat, ada infaq, shadaqah. Dan
dengan harta yang Allah berikan itu dia menyambung silaturahim.
Dulu semasa orang belum punya motor, cita-cita kalau sudah ke
Jakarta mau silaturahim kepada kerabat, minimal sebulan sekali.
Ternyata setelah punya motor, setahun sekali pun tidak. Alasannya,
“Nanti setelah punya mobil.” Sudah punya mobil silaturahim tidak jalan
juga, telepon pun tidak diangkat. Orang lebih suka kumpul dengan kolega
dagang, dengan teman-teman bisnis. Kalau memberi orang tua seratus
ribu, terasa berat, tapi untuk traktir teman ratusan ribu tidak berat.
Inilah di masa orang memuja kesenangan.
Golongan yang kedua, orang yang diberi ilmu tidak dapat harta.
Miskin, tapi punya ilmu. Apa dia bilang dalam hatinya, “Kalau saja
Allah memberi saya harta dan kekayaan seperti yang diberikan kepada si
fulan yang saleh dan baik itu di mana dengan ilmunya dia beramal,
sungguh saya juga akan beramal, saya iri, saya ingin seperti dia.” Yang
satu beramal karena kaya dan berilmu, yang satu berilmu saja tidak
punya harta. Dua-duanya ini sama dalam satu derajat kebaikan.
Di masa lalu ada orang saleh bernama ‘Ali Al-Fatah. Ketika orang
menggiring kambing-kambing qurban. Ali Al-Fatah memang miskin, tapi
berilmu, akhlaqnya bagus. Dia bilang, “Ya Allah sekarang saya mau
mendekatkan diriku dengan-Mu. Tapi dengan apa? Kambing tak punya. Aku
hanya bisa mendekat denganMu melalui duka-dukaku dan kesedihanku.” Para
komentator kisah ini mengatakan apa artinya mendekatkan diri dengan
Allah dengan kesedihan? Artinya adalah ikut bersedih dengan kesedihan
umat, ikut prihatin dengan keprihatinan umat, ikut senang kalau umat
senang, ikut berduka kalau umat berduka. Itulah kita maksud dengan
selalu memikirkan keadaan dan nasib umat.
Yang ketiga ialah seseorang yang Allah berikan harta, tapi tidak
memiliki ilmu. Siang malam kerjaannya maksiat. Tidak mau menunaikan
hak-hak Allah. Dan dia tidak menyambung silaturahmi. Salah satu bentuk
memutuskan silaturahmi adalah zina. Kelompok yang ketiga ini Rasulullah
berkata adalah kelompok yang paling buruk kedudukannya. Punya harta
tapi tidak memiliki ilmu, dia gunakan harta itu sebagai sarana untuk
maksiat. Melakukan maksiat apa saja yang bisa memuaskan nafsu rendahnya.
Kelompok berikutnya, orang yang tidak diberikan ilmu juga tidak
memiliki harta. Sudah miskin, bodoh. Dia bilang kalau Allah memberikan
saya kekayaan seperti orang ini (orang yang kaya tapi bodoh), saya akan
berbuat kayak dia. Saya akan maksiat. Saya akan berzina. Saya akan
mabuk. Walaupun dia tidak melakukan kedudukannya sama dengan orang yang
melakukan maksiat, menikmati maksiat karena dia kaya, sementara yang
keempat ini miskin tapi bodoh.
Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari, kitab paling shahih setelah
Al-Qur’an, memberikan judul bab dalam hadits beliau yang shahih, bab al-ilmu qablal qauli wal amal, bab ilmu dulu sebelum banyak bekerja dan beramal. Dalilnya fa’lam annahu laailaaha illallah (QS. 47: 19) “Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selalin Allah,” kemudian “wastaghfiruhu” barulah amal, barulah kata, beristighfarlah atas dosa dan kesalahan-kesalahanmu.
Awal modal kita adalah ilmu. Karena tidak berilmu, walau belum
berbuat dosa; orang yang bercita-cita maksiat tadi sudah memiliki
derajat yang sama dengan para pemaksiat itu. Orang yang kelompok kedua
walaupun belum beramal karena dia miskin, namun dia berilmu, dia bisa
menset niatnya sehingga mendapat kedudukan yang sangat terhormat dan
mulia.
Yang kedua ada kemauan. Seperti beberapa sahabat Nabi yang tidak
ikut berperang, tapi pergi dengan air mata berlinangan, betul-betul
sungguh kesedihannya. Itu namanya punya komitmen, punya ketulusan hati,
punya kecintaan. Karena itu, selalulah pasang niat untuk berbuat baik.
Orang mengatakan kalau soal pergi haji bukan soal punya duit.
Mungkin ini benar. Betapa banyak orang yang uangnya milyaran, tapi
tidak pergi-pergi haji juga. Bahkan penduduk Saudi sendiri, tidak
semuanya sudah berhaji. Tidak semuanya karena uang, tapi yang
terpenting adalah niat dan juga azzam. Seperti itulah yang kerap
dilakukan nenek-nenek dan kakek-kakek kita supaya bisa berangkat haji.
Setiap hari mereka menabung. Berapa pun, yang penting menabung supaya
bisa berangkat haji. Subhanallah! Kenapa hal itu jarang dilakukan
generasi sekarang? Ini semua karena orang pada zaman ini, yang makan
pendidikan modern, tapi kalah dalam soal niat, kalah dalam soal
komitmen. Mengapa? Karena kesenangan hari ini adalah kiblat orang
modern, hedonisme.

